Minggu, 04 Desember 2011

Video Game Kekerasan Bikin Otak Susah Kendalikan Emosi

img
(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Potensi bahaya video game kekerasan telah menjadi perdebat selama bertahun-tahun. Ada sedikit bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa permainan tersebut berefek buruk terhadap fungsi saraf.

Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan di area otak yang berhubungan dengan fungsi kognitif dan pengendalian emosi pada pria dewasa muda setelah bermain video game kekerasan.

Dalam penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Radiological Society of North America, peneliti mengamati 28 orang laki-laki dewasa sehat berusia 18 sampai 29 tahun yang jarang memainkan video game bertema kekerasan. Mereka secara acak dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 14 orang.

Anggota kelompok pertama diminta untuk memainkan permainan video tembak-menembak selama 10 jam di rumah selama satu minggu dan menahan diri untuk tidak bermain video game di minggu berikutnya. Kelompok kedua tidak memainkan video game sama sekali selama periode dua minggu.

Masing-masing pria menjalani pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) pada awal penelitian. mereka kemudian diberi tes pada minggu kesatu dan kedua.

Selama fMRI, peserta menyelesaikan tugas untuk menilai adanya gangguan emosi. Mereka diminta menekan tombol yang sesuai dengan warna dari kata-kata yang disajikan secara visual atau disebut Stroop Test.

Kata-kata yang menunjukkan tindakan-tindakan kekerasan diselipkan di antara kata-kata tanpa tindakan kekerasan. Selain itu, peserta menyelesaikan tugas menghitung untuk mengetahui adanya hambatan dalam kemampuan berpikirnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah satu minggu bermain game kekerasan, kelompok video game menunjukkan aktivasi lobus frontal kiri yang lebih rendah selama melakukan stroop test emosional dan kurangnya aktivasi pada bagian anterior cingulate cortex selama melakukan stroop test menghitung. Hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil tes awal dan hasil tes kelompok kontrol setelah satu minggu.

"Untuk pertama kalinya, kami telah menemukan bahwa sampel orang dewasa muda secara acak menunjukkan kurangnya aktivasi dalam daerah tertentu di bagian otak frontal setelah bermain video game kekerasan selama seminggu di rumah. Daerah-daerah otak yang terkena penting untuk mengendalikan emosi dan perilaku agresif," kata Yang Wang, MD, asisten profesor riset di Indiana University Departemen Radiologi dan Ilmu Pengetahuan.

Setelah kelompok video game menahan diri untuk tidak bermain game selama satu minggu, perubahan area otak tersebut kembali normal mendekati kelompok kontrol. Stroop tes merupakan tes untuk mengetahui kemampuan individu dalam mengontrol kelenturan daya pikir dan perhatian.

"Temuan ini menunjukkan bahwa video game kekerasan memainkan memiliki efek jangka panjang pada fungsi otak. Efek ini dapat ditunjukkan dalam perubahan perilaku selama waktu bermain video game," pungkas Dr. Wang seperti dilansir Eurekalert.org.