Senin, 09 Mei 2011

Orang Dewasa Juga Butuh Imunisasi


"Justru orang dewasa butuh vaksinasi untuk menghindari penyakit berbahaya dan menular.”

Vaksin dengan jarum suntik (inmagine)

Tak hanya bayi dan anak-anak yang membutuhkan imunisasi. Orang dewasa juga, meski sistem kekebalan tubuhnya sudah terbentuk. Hanya, pemahaman masyarakat tentang manfaat imunisasi untuk orang dewasa agaknya masih rendah.


Setiap tahun, puluhan ribu orang dewasa meninggal dan ratusan ribu lainnya dirawat di rumah sakit akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi. Jadi, tidak tepat jika sistem kekebalan tubuh orang dewasa sudah terbentuk sempurna sehingga tak butuh vaksinasi lagi.

"Justru orang dewasa butuh vaksinasi untuk menghindari penyakit berbahaya dan menular,” kata Prof DR dr Samsuridjal Djauzi Sp.PD, K-AL, FACP, FINASIM dari PAPDI sekaligus Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa, melalui keterangan yang disampaikan Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI).

Beberapa penyakit orang dewasa yang dapat dicegah dengan imunisasi di antaranya, hepatitis B, hepatitis A, tetanus, MMR, tifoid, influenza, pneumokokus, meningokokus, dan kanker serviks atau leher rahim. “Manfaat yang didapat dari munisasi ini tentu saja meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi biaya pengobatan, dan meningkatkan produktivitas,” katanya.

Samsuridjal menambahkan, cakupan imunisasi yang tinggi juga akan menurunkan kekerapan penyakit (herd immunity). Inilah mengapa perlu ditingkatkan cakupan imunisasi untuk dewasa.

"Anda perlu tahu, biaya pengobatan yang dikeluarkan jika terkena penyakit tersebut akan lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya untuk imunisasi," ujarnya. “Disinilah pentingnya promosi kesehatan mengenai pencegahan, yang salah satunya bisa dilakukan oleh Dokter Keluarga.”

Dr Gunawan Basuki MM, Ketua PDKI cabang Jawa Barat menyatakan, Dokter Keluarga merupakan dokter praktik umum penyelenggara pelayanan primer yang memberi layanan profesional, komprehensif, berkesinambungan dengan pendekatan holistik, koordinatif, dan kolaboratif, dengan mempertimbangkan keluarga, komunitas dan lingkungan pasien.

Dokter Keluarga juga berperan melakukan pencegahan penyakit kronis, dan membatasi kecacatan melalui penilaian risiko atau riwayat kesehatan keluarga, pendidikan kesehatan, deteksi dini penyakit , pengobatan preventif dan perubahan perilaku.

“Manfaat yang jelas dirasakan oleh pasien dengan adanya dokter keluarga adalah adanya data kesehatan yang lengkap dan rapi sehingga rekomendasi pencegahan penyakit maupun pengobatan sesuai dengan kondisi pasien,” ujarnya.

Lebih jauh Dr Gunawan menjelaskan, Dokter Keluarga berperan meningkatkan kesehatan keluarga. Ini memungkinkan karena dokter keluarga secara aktif mendatangi pasien yang menjadi tanggung jawabnya, baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Bahkan, harus menjaga pasien agar tetap sehat dan terhindar dari penyakit melalui rekomendasi imunisasi, diagnosis, pengobatan dan prognosis.

“Penyampian informasi mengenai imunisasi dewasa juga merupakan bagian dari konsep pelayanan Dokter Keluarga di Indonesia.”