Minggu, 20 November 2011

Hati-hati, Diabetes dan Depresi Bisa Saling Memicu

suntik-diabetes

Diabetes dan depresi dapat saling memicu karena penderita diabetes memiliki risiko tinggi mengalami depresi, dan sebaliknya mereka yang mengalami depresi berisiko menderita diabetes.
Diabetes merupakan gangguan metabolisme karbohidrat karena jumlah insulin yang kurang, atau bisa juga karena kerja insulin yang tidak optimal. Diabetes ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi.

Insulin merupakan hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggung jawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang tepat. Insulin membuat gula berpindah ke dalam sel sehingga menghasilkan energi, atau disimpan sebagai cadangan energi. Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum akan merangsang pankreas menghasilkan insulin, sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan. Pada saat melakukan aktivitas fisik, kadar gula darah juga bisa menurun karena otot menggunakan glukosa untuk energi.

Pada penderita diabetes, kerja insulin yang tidak optimal menyebabkan gangguan metabolisme karbohidrat. Akibatnya gula tidak bisa diubah menjadi glukogen. Gula juga akan melalui ginjal sehingga urinenya mengandung glukose. Ini yang sering disebut orang sebagai kencing manis. Diabetes tipe-1 disebabkan kerusakan sel beta pankreas yang menghasilkan insulin yang diperlukan untuk mengatur kadar gula darah. Penyakit autoimun itu berbeda dengan diabetes tipe-2, yang berkaitan dengan kegemukan.

Diabetes tipe-2 disebabkan resistensi insulin di jaringan perifer karena kadar gula darah yang terlalu tinggi sehingga insulin ‘kelelahan’ membawa gula dari darah ke jaringan dan menyebabkan penumpukan gula dalam darah. Diabetes tipe ini paling banyak dialami dan berhubungan erat dengan gaya hidup.
Penderita diabetes menunjukkan gejala antara lain sering kencing, banyak minum, pandangan kabur dan rasa kebas pada tangan atau kaki.

Sementara itu, depresi ditandai dengan gejala antara lain sering merasa cemas, merasa putus asa atau bersalah, tidur atau makan terlalu sedikit, dan kehilangan rasa tertarik terhadap hidup, orang dan kegiatan.
Sebuah riset yang dilakukan di Universitas Harvard menemukan bahwa mereka yang mengalami depresi memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk menderita diabetes, dan mereka yang menderita diabetes memiliki risiko tinggi untuk mengalami depresi, jika dibandingkan dengan kelompok peserta studi yang sehat.

Menurut Dr. Frank Hu, guru besar nutrisi dan epidemiologi pada Harvard School of Public Health di Boston, hasil riset itu menunjukkan bahwa dua kondisi itu dapat saling mempengaruhi dan kemudian menjadi lingkaran setan sehingga pencegahan terhadap diabetes penting untuk mencegah depresi, dan sebaliknya.

Di Amerika Serikat, sekitar 10 persen dari jumlah penduduk menderita diabetes dan setiap tahun 6,7 persen orang berusia lebih dari 18 tahun mengalami depresi klinis. Sekitar 95 persen diabetes merupakan diabetes tipe-2. Para peneliti menemukan bahwa keduanya dapat saling mempengaruhi. Riset itu dilakukan dengan mengamati 55.000 wanita selama 10 tahun, dan mengumpulkan data melalui kuisioner. Di antara lebih dari 7.400 peserta yang mengalami depresi, terdapat 17 persen yang memiliki risiko tinggi mengalami diabetes. Mereka yang mengonsumsi obat antidepresi memiliki risiko 25 persen lebih tinggi.

Sebaliknya, di antara lebih dari 2.800 peserta yang mengalami diabetes, terdapat 29 persen yang mungkin akan mengalami depresi, dengan mereka yang mengonsumsi obat memiliki risiko lebih tinggi karena pengobatan menjadi kian agresif. Tony Z. Tang, asisten profesor pada departemen psikologi Universitas Northwestern mengatakan, obat yang dikonsumsi para peserta riset tidak berdampak menyembuhkan, tidak seperti antibiotik untuk infeksi. Karena itu, pasien depresi dan pasien diabetes tetap mengalami gejala utama penyakit tersebut.

Namun, Tang mengingatkan untuk tidak menarik kesimpulan terlalu jauh dari hasil riset itu, karena korelasi antara diabetes dan depresi menurun tajam saat berat badan berlebih dan ketidakaktifan dikendalikan dalam riset itu. Ia mengatakan kegemukan dan memiliki gaya hidup tidak sehat menyebabkan orang lebih mungkin mengalami depresi, dan juga lebih mungkin menderita diabetes.

Dr. Joel Zonszein, direktur Clinical Diabetes Center pada Pusat Medis Montefiore di New York City mengatakan sulit menetapkan kaitan itu dalam studi yang didasarkan pada kuisioner karena laporan yang dibuat sendiri dapat tidak akurat. “Ini tidak ideal. Sulit untuk mengatakan apa menyebabkan apa, apakah satu menyebabkan yang lain. Sulit untuk menjelaskan,” katanya.

Karena itu, penelitian yang besar diperlukan, kata Zonszein, yang juga guru besar pada Albert Einstein College of Medicine, di New York City. Hu, yang juga guru besar kedokteran di Universitas Harvard mengatakan, kesimpulan riset itu benar. Saat kedua kondisi itu memberikan faktor risiko yang sama (obesitas dan kurang olah raga), dapat dikatakan bahwa kedua kondisi itu berkaitan.

Depresi dapat mempengaruhi kadar gula dalam darah dan metabolisme insulin melalui peningkatan kortisol, yang memberikan pengaruh pada kebiasaan makan, penambahan berat badan dan diabetes, katanya. “Sebaliknya, manajemen diabetes dapat menyebabkan stress kronis dan ketegangan, yang dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko diabeters. Keduanya terkait tidak hanya secara perilaku, tapi juga secara biologi,” katanya.