Selasa, 07 Desember 2010

Diplomat Korea: RI Terbukti Tahan Krisis Namun kalangan pengusaha Korea berharap Indonesia segera memperbaiki iklim investasi


Renne R.A Kawilarang
Dubes Nicholas Dammen (tengah) bersama dengan tiga pengusaha Korea (VIVAnews/KBRI Seoul)



Indonesia dipandang telah menunjukkan daya tahan dalam menghadapi krisis keuangan global. Itulah sebabnya, negeri ini tetap dipandang menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik.



Demikian ungkap kalangan pengusaha dan diplomat Korea Selatan (Korsel). Mereka menyampaikan penilaian itu dalam suatu resepsi yang diadakan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, Korsel, Jumat 29 Januari 2010.

Seorang pengusahan Korea menyatakan ketertarikannya untuk tetap berbisnis di Indonesia. “Saya senang berbisnis dengan Indonesia dan saya akan memperluas pabrik saya di Purwakarta” demikian ungkapan pimpinan perusahan Sae-A Trading Co. Ltd, salah satu perusahaan garmen/tekstil terkemuka Korea yang memiliki beberapa pabrik di Indonesia.

Turut hadir dalam New Year Business Gathering ini adalah Yun Hai-jun, mantan (Duta Besar) Dubes Korsel untuk Indonesia dan kini menjadi Ketua Korea-Indonesia Friendship Association (KIFA) dan Prof. Dr. Kim Soo-il, mantan Dubes Republik Korea Selatan untuk Timor Leste dan juga mantan Konsul Kehormatan RI di Busan.

Menurut Dubes Yun, resistensi Indonesia terhadap dampak krisis keuangan global serta cepatnya pemulihan ekonomi Korea Selatan menjadi pendorong utama bagi pengusaha Korea untuk menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan investasinya.

Dubes Yun juga memprediksi prospek Indonesia yang lebih baik lagi sekiranya berbagai kendala yang berdampak negatif terhadap iklim investasi Indonesia dapat diatasi.

Di depan sekitar 100 pengusaha Korea, Duta Besar Indonesia untuk Korsel, Nicholas T. Dammen, menyatakan bahwa hubungan dan kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan telah berlangsung sangat baik di berbagai tingkatan, bidang dan forum kerjasama.

Baru-baru ini beberapa investor Korea telah menorehkan kesepakatan dan komitmennya untuk meningkatkan investasinya di Indonesia. Perusahaan Sae-A Trading Co. Ltd, misalnya, berencana memperluas investasinya di Indonesia dengan membangun pabrik dye sebagai bagian proses pembuatan tekstil di lahan seluas sekitar 100 hektar di Purwakarta senilai US$ 160 juta.

Kemudian pada tanggal 2 Desember 2009, perusahaan baja terbesar Korea, POSCO (Pohang Steel Company) telah menandatangani nota kesepahaman dengan Krakatau Steel untuk membangun Integrated Steel Mills di Cilegon, Banten dengan nilai investasi US$ 5 milyar.

Sebelumnya, pada akhir September 2009 Gubernur Sulawesi Tengah dan Gubernur Provinsi Jeollanamdo telah menandatangani nota kesepahaman menyangkut kerjasama kedua propinsi di bidang budi daya hayati laut dan komitmen investasi Korea Selatan untuk pengembangan bio-energi di Sulteng.

"Ini sebagian dari bukti minat investor Korsel untuk menanamkan modalnya di Indonesia," kata Dammen.