Rabu, 08 Juni 2011

Kulit Katak Berpotensi Jadi Obat Kanker

img
(Foto: thinkstock)

London, Katak atau kodok masih jarang digunakan sebagai obat dan lebih sering diolah sebagai bahan makanan. Tapi peneliti menemukan bahwa kulit katak bisa menjadi obat untuk 70 penyakit utama termasuk kanker.

Para ilmuwan dari Queen's University Belfast berhasil memenangkan penghargaan atas studinya tentang kulit katak yang bisa menjadi obat untuk 70 penyakit utama. Para peneliti mendapatkan pujian sebagai Medical Futures Innovation Awards di London pada Senin 6 Juni 2011.

Studi yang dimpimpin oleh Professor Chris Shaw dari Queen's School of Pharmacy telah berhasil mengidentifikasi dua jenis protein yang dapat mengatur bagaimana pembuluh darah bisa tumbuh.

Tim peneliti mendapatkan bahwa protein yang didapatkan dari waxy monkey frog bisa menghambat pertumbuhan pembuluh darah dan dapat digunakan untuk membunuh sel tumor kanker.

"Menghentikan pembuluh darah yang memasok makanan akan membuat tumor menjadi kecil sehingga mengurangi kemungkinan ia akan menyebar, dan bisa membunuh tumor tersebut. Hal ini bisa menjadi potensi untuk mengubah kanker dari penyakit terminal menjadi kondisi kronis," ujar Prof Shaw, seperti dikutip dari BBCNews, Kamis (9/6/2011).

Prof Shaw mengatakan bahwa tumor kanker hanya bisa tumbuh hingga ukuran tertentu sebelum akhirnya ia membutuhkan bantuan pembuluh darah untuk tumbuh dan memberinya oksigen serta nutrisi penting lainnya.

Selain itu tim peneliti juga menemukan bahwa katak raksasa firebellied menghasilkan protein yang bisa merangsang pertumbuhan pembuluh darah serta membantu pasien untuk pulih dari cedera dan operasi lebih cepat.

"Ini memiliki potensi untuk mengobati berbagai penyakit dan kondisi lainnya yang membutuhkan perbaikan pembuluh darah dengan cepat, seperti penyembuhan luka, transplantasi organ, luka diabetes dan kerusakan akibat stroke atau kondisi jantung," ungkapnya.

Sementara itu Proesor Brian Walker dan Dr Tianbao Chen menuturkan banyak penemuan besar yang sangat inovatif dan menarik telah digagas oleh Profesor Shaw. Inovasi ini merupakan tahap awal dan membutuhkan pekerjaan lebih lanjut hingga bisa membawanya ke terapi klinis.